in

Ketika Cinta Rasa Remaja, Berakhir Depresi

depresi
https://www.instagram.com/lattifaa/%20

Pada masa – masa mencari jati diri, berbagai hal banyak sekali terjadi pada remaja, seperti cenderung tertutup pada orang tua, lebih banyak menghabiskan waktu di luar dari pada dengan orang tuanya, ataupun berubahnya suasana hati seorang remaja hal ini kerap ditemui pada seorang remaja dan selalu di anggap wajar oleh orang tua. Namun taukah kamu? Penelitian menunjukan bahwa hal ini merupakan suatu tanda depresi.

Memang sudah tidak lazim lagi bila seorang remaja mulai mengenal namanya cinta dan mulai berkencan sejak duduk di bangku sekolah maupun kampus. Banyak sekali momen jatuh cinta sewaktu remaja menjalin hubungan dengan seseorang yang baru di temuinya. Ini adalah fase pertumbuhan seorang manusia, begitulah asumsi banyak orang. Namun banyak juga momen jatuh cinta yang mulai menganggu aktivitas kehidupanya, atau bahkan akan lebih jauh dari itu, membuat seorang remaja pendek akal sehingga memutuskan untuk menuntaskan hidupnya.

Saat seorang remaja tiba – tiba menangis tanpa sebab dan tiba – tiba mengurung dirinya di dalam kamar, orang kerap kali mengabaikan hal ini sebagai dampak perkembangan hormonal seorang remaja yang salah satunya adalah perubahan suasana hati. Perubahan suasana hati pada seorang remaja di sebabkan dampak fluktuasi progesterone, estrogen dan testosterone, ketiga hormone tersebut adalah hormone seks yang memicu ketertarikan kepada seseorang dengan orang lainya. Remaja amat begitu tertarik dengan seks, bahkan tidak jarang kalau sampai terobsesi. Ketika remaja putri tengah mengalami menstruasi, yang sering sekali di temui adalah emosinya yang meledak – ledak sering sekali di sebut sebagai (PMS). Hal semacam inilah yang membuat orang tua seharusnya mencari tau lebih jauh apa yang sedang di alami putri remajanya, dan sangat memungkinkan bahwa gejala depresi sedang menjangkitinya.

Gejala depresi yang kerap di alami oleh seorang remaja, paling utama adalah merasa sedih bahkan sampai putus asa. Sering sekali tersinggung dan akan lebih banyak menangis menjadi gejala lainya yang sering kali di temui dari diri seorang remaja, bahkan perubahan nafsu makan, terus menerus tidur, sampai kesulitan berkonsentrasi menjadi ancaman yang buruk bagi seorang remaja.

Disamping itu seorang remaja akan merasa sering kali kurang antusias terhadap hal – hal yang menyenangkan dan tidak termotivasi dalam menjalani hari – harinya bahkan ganguan kelelahan tak beralasan dan rasa nyeri selalu saja melekat pada diri mereka, dan gejala yang paling berbahaya adalah munculnya keinginan untuk bunuh diri. Problem tersebutlah kerap sekali terabaikan oleh orang tua.

Departemen pendidikan Inggris telah meneliti sebanyak 30.000 remaja pada usia 14-15 tahun, bahwa satu dari tiga remaja putri telah menderita depresi atu kecemasan, dibandingkan sejak sepuluh tahu yang lalu, jumlah remaja yang menderita depresi atau kecemasan di inggris naik sepuluh persen sehingga peneliti mulai menyebutnya sebagai “Epidemik pertumbuhan lambat” Sebanyak 37 persen remaja putri yang telah di survei mengaku bahwa ia mengalami gejala soal tekanan psikologis seperti perasaan yang tidak berharga atau sering kali kesulitan konsentrasi, ini membuktikan bahwa remaja putri akan lebih rentan terkena stress dibandingkan remaja putra, yang hanya mengalami 15 persen saja.

Nick Harrop seorang menajer kampanye lembaga Young Minds, menyatakan pada The telegraph bahwasanya “Remaja putri dewasa sering sekali menghadapi tekanan dari mulai sekolah, kecemasan tentang citra tubuhnya seksualisasi dini, perundungan pada ranah online dan offline, sampai ketidakpastian menghadapi masa depannya setelah selesai sekolah. ”Media sosial yang memegang peran dalam kehidupan sehari – hari dapat memicu tekanan yang di alami remaja putri. Remaja putri di tuntut untuk menciptakan sebuah personal branding dan mencari penguatan dari banyaknya orang sekitar dalam bentuk like dan share juga komen. Atau seperti halnya yang di kutip di The New York Times, sudah sejak tahun 2005 sampai 2014 tingkat depresi pada seorang remaja usia 12 -20 tahun menanjak pesat.

Banyak studi yang telah meneliti tentang kecenderungan seorang remaja untuk menuntaskan hidupnya ketika ia tidak dapat menyelesaikan masalah. Sebagai orang tua cobalah lebih peka pada perkembangan anak, menjadi pendengar baik bagi putra dan putrinya akan lebih baik untuk ikut terlibat menyelesaikan masalah yang terjadi.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

Written by Anggitaaprilia

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Comments

0 comments

ketulusan

Menguak Fakta, Ketulusan Cinta Seorang Manusia

Dibalik Sebuah Fakta, Cewe Selalu Benar!